31/10/2026

Go Eat

Temukan Rasa, Temukan Cerita

Sejarah Pempek Palembang, Kuliner Legendaris Indonesia

Sejarah Pempek Palembang, Kuliner Legendaris Indonesia

Sejarah Pempek Palembang. Indonesia adalah negeri dengan kekayaan kuliner luar biasa — dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah punya makanan khas yang mencerminkan budaya, sejarah, dan kreativitas masyarakatnya.

Di antara sekian banyak hidangan legendaris, Pempek Palembang menonjol sebagai salah satu ikon kuliner Nusantara yang telah mendunia karena cita rasanya yang unik dan sejarah panjangnya.

Pempek bukan sekadar makanan, melainkan simbol identitas budaya masyarakat Palembang, Sumatera Selatan. Dari akar tradisi kuno sampai menjadi hidangan kekinian, perjalanan kuliner ini menunjukkan bagaimana makanan bisa jadi saksi sejarah, perubahan sosial, dan perpaduan budaya.

Asal‑Usul Pempek: Dari Kelesan Dulu Hingga Pempek Sekarang

Menurut sejumlah sumber sejarah kuliner dan penelitian akademik, asal‑usul pempek berkaitan erat dengan ketersediaan bahan lokal, kebiasaan masyarakat sungai memilih ikan sebagai bahan utama, dan pengaruh budaya lain yang masuk ke Palembang.

Pempek Asal Kata Kelesan

Pempek awalnya tak disebut “pempek” seperti sekarang, melainkan dikenal sebagai kelesan — sebuah olahan yang dibuat dari daging ikan yang dibersihkan, dihaluskan, lalu dicampur dengan tepung sagu. Kata kelesan merujuk pada proses mengolah bahan menjadi adonan yang kemudian direbus atau dikukus untuk membuat makanan bertahan lebih lama.

Beberapa catatan sejarah bahkan mengaitkan keberadaan tepung sagu dan olahannya di wilayah Palembang sejak masa Prasasti Talangtuo abad ke‑7 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa bahan utama pempek — yakni ikan dan sagu — sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palembang jauh sebelum nama “pempek” muncul.

Pengaruh Budaya Tionghoa

Salah satu legenda paling populer tentang asal nama “pempek” berasal dari interaksi masyarakat lokal dengan pendatang Tionghoa pada masa Kerajaan Palembang Sultanate sekitar abad ke‑16. Cerita ini menyebutkan bahwa seorang kakek Tionghoa yang tinggal di Palembang menciptakan olahan ikan berbasis sagu untuk mengawetkan ikan hasil tangkapannya. Penduduk kemudian memanggilnya apek (sebutan untuk lelaki tua dalam bahasa Hokkien), sehingga makanan itu dikenal sebagai empek‑empek atau pempek.

Teori lain dalam studi budaya menunjukkan bahwa teknik mengolah ikan ini merupakan bentuk akulturasi antara budaya Melayu lokal dan teknik memasak dari Tionghoa, menghasilkan makanan yang unik dengan rasa berbeda dari olahan sejenis di luar Indonesia.

Perkembangan Pempek: Dari Hidangan Rumah Tangga ke Ikon Kuliner Nasional

Pada awalnya, pempek hanya diproduksi secara sederhana di rumah‑rumah penduduk, terutama di komunitas pedagang sungai yang membutuhkan makanan tahan lama saat perjalanan. Namun seiring waktu, kuliner ini berkembang jadi bagian penting kehidupan masyarakat Palembang.

Munculnya Penjual Pempek Keliling

Catatan modern menunjukkan bahwa pada tahun 1916, pempek mulai dipasarkan secara lebih luas oleh penjual keliling di Palembang. Mereka membawa kelesan dari satu tempat ke tempat lain dan menjajakan makanan tersebut, sehingga makin banyak orang palembang mengenal dan menyukai olahan ini. Nama “pempek” pun makin populer menggantikan istilah kelesan.

Kemudian pada abad ke‑20, permintaan pempek makin meningkat seiring perjalanan hidup masyarakat kota. Penjual khas Palembang pun semakin banyak bermunculan, mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran khusus pempek.

Perubahan Bahan dan Penyajian

Tradisionalnya, pempek dibuat dari belida (Chitala spp.) atau gabus — ikan lokal Musi — yang dikenal dengan daging putihnya yang berserat dan gurih. Seiring berjalannya waktu, karena keterbatasan persediaan ikan belida, banyak pembuat pempek menggunakan ikan tenggiri, kakap, atau ikan laut lainnya.

Pempek disajikan dengan tambahan cuko, saus khas berwarna gelap yang terbuat dari cuka, gula aren atau gula merah, bawang putih, cabai, dan rempah lain, menciptakan perpaduan rasa asin, manis, asam, dan pedas yang menjadi ciri khas kuliner ini.

Variasi Pempek: Ragam Bentuk dan Citarasa

Seiring perkembangan zaman, pempek berkembang menjadi puluhan variasi yang berbeda — masing‑masing dengan bentuk dan rasa unik. Variasi ini mencerminkan kreativitas masyarakat Palembang dalam mengolah bahan lokal yang sama menjadi hidangan berbeda.

Berikut beberapa jenis pempek yang paling terkenal:

  • Pempek Kapal Selam – Berbentuk bulat besar dengan isian telur ayam di pusatnya, menciptakan tekstur kaya dan rasa yang lebih kompleks ketika dimakan dengan cuko.
  • Pempek Lenjer – Bentuk silinder panjang yang sering ditemui sebagai versi klasik pempek.
  • Pempek Adaan – Bentuk bulat kecil, sering digoreng garing di luar dan empuk di dalam.
  • Pempek Dos – Varian yang tidak menggunakan ikan (atau lebih sedikit), tapi menggunakan “dos” atau lapisan adonan yang lebih kaya tepung dan rempah.

Selain itu, ada juga bentuk dan sajian yang lebih modern atau kreatif, seperti pempek isi keju, udang, bahkan makanan pempek dengan tambahan mie dalam sajian rujak mie — perpaduan pempek dan mie dengan cuko yang khas.

Pempek dalam Budaya Palembang dan Nusantara

Pempek tidak hanya dilihat sebagai makanan sehari‑hari, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Palembang. Hal ini ditunjukkan oleh kehadiran pempek dalam berbagai acara adat, perayaan masyarakat, hingga festival budaya kuliner di Sumatera Selatan.

Masakan ini juga menjadi ikon kuliner Palembang yang pertama kali terlintas di benak banyak orang ketika menyebut kota ini. Bahkan, studi budaya menyatakan bahwa pempek memegang peranan penting dalam identitas Palembang, di mana nama makanan ini hampir identik dengan citra kota itu sendiri.

Peran Pempek dalam Ekonomi dan Pariwisata Kuliner

Seiring meningkatnya popularitas, pempek menjadi komoditas penting dalam ekonomi lokal Palembang. Banyak pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang menggantungkan hidupnya dari produksi, penjualan, dan distribusi pempek baik di tingkat lokal maupun nasional.

Data dari pemerintah menunjukkan bahwa jumlah usaha pempek di Palembang terus berkembang, menjadikan pempek sebagai pendorong ekonomi kreatif dan kuliner. Permintaan terhadap pempek juga meningkat selama event budaya besar, maupun saat wisatawan domestik dan internasional berkunjung ke Palembang.

Pempek Mendunia: Popularitas dan Pengakuan Internasional

Popularitas pempek kini tidak terbatas hanya di Indonesia. Karena cita rasanya yang khas, pempek mulai diperkenalkan sebagai kuliner Nusantara yang patut dicoba di kancah internasional. Banyak wisatawan luar negeri yang pertama kali mengenal pempek saat berkunjung ke Indonesia atau mencicipinya di restoran Indonesia di luar negeri.

Pempek juga masuk dalam daftar kuliner khas Indonesia yang dipromosikan dalam pameran budaya, festival kuliner internasional, dan media sosial yang memperluas jangkauan citarasa kuliner Palembang.

Pempek dan Tren Kuliner Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, pempek juga mengalami inovasi modern dalam penyajian dan pemasaran. Tidak hanya dijajakan di warung tradisional, kini pempek hadir di kafe kekinian, menu restoran fine dining, hingga versi frozen ready‑to‑eat yang memudahkan konsumennya di rumah.

Beberapa produsen pempek pun memanfaatkan platform online dan layanan pengiriman, sehingga pempek bisa dinikmati di kota‑kota besar lain di Indonesia tanpa harus pergi ke Palembang. Hal ini meningkatkan akses dan semakin memperluas popularitas kuliner ini.

Mengapa Pempek Tetap Bertahan Sepanjang Zaman?

Ada beberapa alasan kuat mengapa pempek tetap eksis dan dicintai dari generasi ke generasi:

  • Rasa yang khas dan kompleks — perpaduan ikan, sagu, dan cuko yang menggabungkan rasa asin, manis, asam, dan pedas, menciptakan cita rasa yang menarik selera.
  • Perpaduan budaya yang harmonis — akulturasi Melayu lokal dengan teknik Cina yang menghasilkan masakan unik.
  • Fleksibilitas sajian — banyak variasi pempek sehingga cocok dinikmati di berbagai suasana.
  • Identitas budaya yang kuat — pempek telah menjadi simbol kuliner Palembang yang dikenal luas di Indonesia dan luar negeri.

Kesimpulan

Sejarah pempek merupakan gambaran menarik tentang bagaimana kuliner berkembang dari makanan tradisional lokal menjadi warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Bermula dari kelesan sederhana yang dibuat masyarakat sungai, hingga menjadi empek‑empek yang dikenal luas berkat perpaduan budaya, kreativitas, dan penyebaran yang melintasi batas wilayah — pempek telah berhasil menempatkan dirinya sebagai salah satu warisan kuliner Indonesia yang mendunia.

Pempek bukan hanya makanan lezat, tetapi juga cerminan sejarah, kebudayaan, dan dinamika masyarakat Palembang. Dari sungai Musi hingga ke piring pecinta kuliner di mana pun, pempek terus menjadi bukti bahwa makanan tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang abadi.